Usia 27 Tahun
Usia 27 tahun. Memasuki dunia dewasa awal. Usia dengan pemikiran yang semakin terbuka melihat segala sudut pandang duniawi. Belajar memahami diri, belajar mengambil ibrah dari kisah orang-orang sekitar. Belajar memeluk diri sendiri dengan segala kekurangannya, sembari berusaha memperbaiki. Akhir-akhir ini betul-betul merasa bahwa kalau bukan diri kita yang kuat, kalau bukan diri kita yang semangat, kalau bukan diri kita yang punya tujuan, maka hidup akan terasa hampa. Semakin sadar bahwa dunia ini berputar begitu cepat dengan hiruk pikuk. Ujian sana, ujian sini. Tapi, masing-masing kita dengan segala kemampuan yang Allah beri berusaha dan tidak menyerah untuk menghadapinya. Walau ada yang tertatih, walau ada yang menangis dalam sendiri, bahkan terkadang kita dituntut untuk tetap terlihat baik-baik saja karena kondisi.
Usia 27 Tahun. Mulai sadar dan terkadang mengambil jeda mempertanyakan apa tujuan hidup dan segala aktivitas rutin yang kita lakukan. Walau secara teori kita paham bahwa kita diciptakan tentunya untuk beribadah kepada Allah sesuai tujuan penciptaan kita (Q.S. Adz-Zariyat : 56). Namun, kadang berpikir apakah segala rutinitas harian ini berujung pada tujuan itu?
Usia 27 Tahun. Mulai rutin melakukan refleksi diri. Membenahi apa yang kadang terlampau jauh dari tujuan hidup. Melihat kondisi sekitar, melihat kondisi dunia yang sepertinya berjalan begitu cepat. Kadang membuat kita sadar bahwa kita memang harus memiliki pegangan tali kuat agar tak jatuh bahkan tersungkur dengan segala fitnah dunia.
Usia 27 Tahun. Menghadapi era teknologi canggih. Dunia digital semakin marak dan sedikit saja kita buka jendela digital, berita dan kabar yang muncul selalu saja membuat kita tercengang, kaget, apalagi berita yang seakan diluar nalar rasional. Bahkan ada masa kita bertanya “ apakah manusia masih berperilaku manusia?”
Yah..tapi inilah realita. Jika tak berpegangan pada tali yang kuat, kita akan jatuh. Jika kita terus tergerus dengan segala kesibukan dunia tanpa mengintegrasikan tujuan penciptaan kita di dalam setiap aktivitas dunia kita, apa yang bakal jadi bekal menuju kampung akhirat?
Karena urusan dunia akhirat bukanlah sesuatu yang diseimbangkan. Karena menyeimbangkan sesuatu artinya kita memisahkan dua hal tersebut agar takarannya sama. Tapi, untuk urusan dunia dan akhirat bukanlah hal yang bisa dipisahkan. Namun, dua hal yang harus diintegrasikan untuk jadi satu. Dalam melakukan urusan dunia, implisitkan akhirat di dalamnya. Dalam bekerja misalnya, luruskan niat untuk apa kita bekerja. “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS At-Taubah: 105)
Maka, untuk kita yang memasuki usia 27 Tahun. Mari belajar lebih banyak lagi. Memberi bekal pada diri sendiri. Belajar untuk terus bersyukur dan menikmati peran yang hari ini Allah takdirkan. Mungkin ada diantara kita yang menjalani usia ini sendiri walau kebanyakan sebaya kita telah Allah takdirkan hidup dengan keluarga kecil mereka. Mungkin, ada juga yang orangtua kita sudah sangat ingin melihat kita menyempurnakan separuh agama, namun Allah berkata belum waktunya. Karena ujung dari segala hal yang kita lakukan adalah bagaimana kita lapang sembari tetap terus berbaik sangka pada rangkaian takdir yang Allah gariskan.
Hey, 27 tahun. Mari terus berikhtiar memperbaiki kualitas diri di hadapan Ilahi. Bukan lagi persoalan melakukan hal terbaik untuk mencari validasi dari orang lain. Namun, ini soal diri kita dan Tuhan. Usia ini memberikan pelajaran bagaimana setiap hal yang kita lakukan mampu kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.